Dermaga
penghabisan
Karya
Iriani Taufik
Seujar
mata memandang terlihat danau terbentang luas, perahu-perahu kecil yang
berbolak-balik menyusuri danau lengkap dengan pemandangan bukit-bukit yang
berjejer menjadi hiasan yang terlihat dari sudut pulau ini. Tenang, dengan
suara desir angin yang bertiup mengenai rambut-rambut halus di sekitar telinga
menambah nilai estetik pulau kecil nan indah ini.
Devina,
seorang pengajar tenaga honorer yang bertugaskan di daerah terpencil Desa Bukit
Batas, Kab Banjar Kalimantan Selatan, sudah 2 tahun terakhir ini dia tidak
pulang ke kampung halamannya Grogot Kalimantan Timur. Saat ini dia mengalami
kegundahan hati, rasa rindu mulai menyelimuti relung hatinya. Kerinduan
terhadap kedua orang tuanya kini semakin menyiksa batin Devina.
Tepat
di bawah pohon, menatap waduk yang ada di depan matanya Devina dan Randi duduk
berdampingan diam seribu bahasa. Randi seorang sarjana teknik yang berkerja di salah
satu PLTA dekat dengan Desa Bukit Batas tempat Devina bekerja. Randi teman
dekat Devina selama bekerja di sini, Randi sering berkunjung sembari mengamati
bendungan yang ada di desa itu.
Suara
Devina memecahkan kesunyian yang terjalin diantara mereka selama kurang lebih
10 menit ini.
“Randi, beginikah rasanya mencari kehidupan yang
layak?” masih memandang waduk.
“Kehidupan
layak kadang membutuhkan pengorbanan yang layak Vina”
Devina
menatap dalam wajah teman dekatnya itu, memberikan isyarat tak setuju dengan
pernyataan Randi.
“Kalau begitu, apakah dengan ku tinggalkan orang
tuaku pengorbananku sudah layak?”
“aku pun tak mengerti Devina, ikhlaskanlah anggap
ini baktimu kepada orang tua mu” jelas Randi
“andai semua itu seringan seperti apa yang kamu
katakan Ran, aku tak segundah ini”lirih Devina
“aku setuju, tapi berpengaruhkah jika kita hanya
mengeluh tanpa dijalani. Kita harus menjalankan hidup ini bukan hanya
menjalaninya” nasehat Randi
Nasehat
Randi membuat hati Devina tergugah untuk tegar, namun seketika itu juga Devina
teringat suara lirih orang tuanya yang menantikan kepulangan anak bungsu yang
telah dua tahun merantau didaerah orang melalui via telepon dua hari lalu.
Devina meneteskan air mata dipipi halusnya, dia merasa menjadi anak yang
durhaka yang tak berguna bagi orang tuanya.
“assalamu’alaikum anak ku, apa kabar kamu disana? Abah dan mama disini baik-baik saja!” tanya ayah Devina melalui via
telepon.
“waalaikum
salam abah, Devina disini baik.”
Jawab Devina
“nak, abah
dan mamamu sekarang tinggal hanya berdua dirumah, kakamu sekarang mempunyai rumah sendiri” lirih ayah Devina
“alhamdulillah”singkat
Devina
“mamamu sekarang sering melamun Devina, dia merasa
kesepian. Dia selalu duduk merenung dibalkon belakang rumah sambil memandangi
burung-burung yang mencari makan ” jelas ayah Devina.
Devina
hanya diam, tanpa menjawab ataupun menanggapi bercakapan ayahnya. Tetesan air
mata Devina pun mulai mengalir meluncur bebas melewati pipinya.
“nak,
mengapa kamu diam?”
“tidak
apa abah”
“Devina, mamamu sepertinya sangat merindukanmu.
Kalau boleh tahu, kapan kamu bisa pulang untuk mememui abah dan mamamu disini.” Pinta ayahnya
“abah, Devina juga merindukan abah dan mama disini”
“kamu
sudah dua tahun tidak pulang nak, jelas kami menanyakan ini pada mu”
“iya
abah, Devina akan memberi kabar jika
Devina bisa pulang”
“bukan
abah memaksakan kehendak nak, tapi abah hanya kasihan dengan mamamu”
“iya,
abah”
“ya
sudah, istirahatlah nak jangan lupa kabari abah
tentang kabarmu”
“iya
abah, abah dan mama baik-baik disana. Devina sayang abah mama”
Perbincangan
via telepon yang berlangsung sekitar 10 menit itu, membuat rasa rindu Devina
memuncak namun dia juga memikirkan pekerjaannya disini sebagai tenaga pengajar
yang sehari-harinya menjadi pendidik puluhan anak-anak didesa ini.
Kini
suara Randilah yang menyadarkan Devina dari lamunan yang teramat jauh masuk
dalam pikirannya.
“mengapa
kamu diam, Devina”tanya Randi
“kamu
masih menanyakannya mengapa aku diam Randi?”Devina balik menanyakan
“kamu
memang pintar membuatku kewalahan dengan sikapmu ini Devina”
“aku teringat permintaan abah dan mamaku Randi, yang memintaku pulang dua hari yang lalu
karena mereka merindukan anak bungsunya yang tak pernah pulang dua tahun terakhir ini”lirih Devina
“lantas,
kamu ingin pulang?” tanya Randi
“aku tak mungkin pulang, dalam keadaan seperti ini.
Aku juga takut jika aku pulang, aku tak diizinkan untuk kembali kesini
lagi”jelas Devina meyeka air mata yg kini mengalir
“sudahlah Devina, bukankah anak didikmu akan
mengikuti lomba cerdas cermat untuk mewakili sekolahmu minggu ini?”
“iya, itu jugalah yang menjadi pikiranku disaat aku
ingin meninggalkan desa ini untuk pulang. Aku sudah terlanjur jatuh cinta
dengan anak-anak desa ini Ran.”jelas Devina, yang kini mulai merendam emosi
yang dari tadi mengelayuti dipikirannya.
“hanya anak-anaknya saja Devina? Tidak ada yang
lain?”tanya Randi, sambil mengumbar senyum dibibirnya
“tentu ada yang lain, kamupun tahu apa itu”jawab
Devina, membalas senyuman Randi.
Devina
dan Randi kini saling bertatapan dengan simpul senyum dibibir masing-masing.
Mereka kini beranjak untuk kembali, perasaan Devina kini mulai tenang namun
bukan berarti kerinduan Devina terhadap kedua orang tuanya telah hilang.
Embun
pagi masih menutupi permukaan air, baunya pun menyengat merasuk hidung dan
matahari belum juga memunculkan sinarnya dari peraduan. Randi pagi ini bertugas
untuk memantau waduk yang ada di Bukit Batas. Randi menyeberang menggenakan
perahu, dikejauhan matanya tertuju pada seorang gadis yang berdiri di dermaga
nampak tengah gelisah. Perahunya semakin dekat Randi pun semakin penasaran
dengan gadis itu, ternyata gadis itu adalah Devina.
“Devina!
Apa yang kamu lakukan di sini?” Menuruni perahu yang dinaikinya.
“emm..emmm”
gelisah bermondar-mandir
“kamu
nampak gelisah Devina? Ada apa sebenarnya?”
Seketika
tangis Devina pecah, kebimbangannya kini membuatnya tidak bisa mengendalikan
diri.
“baiklah Devina, mari kita duduk dulu”. Ajak Randi
ke salah satu bangku yang ada di dermaga.
“ayahku tadi malam menelponku lagi”. Devina memulai.
“memintamu pulang?”
“tidak, lebih dari itu Ran. Mamaku sakit dan aku
harus pulang”lirih Devina.
“terus, kamu ingin pulang?”
“aku dihadapkan dengan pilihan yang sangat sulit
Ran. Di satu sisi aku mengkhawatirkan mamaku tapi disisi lain aku harus
menemani anak didikku”.
“di sinilah kamu harus memilih, membuktikan dirimu
dewasa. Menentukan yang mana kamu lakukan terlebih dahulu.” Jelas Randi
Devina
hanya terdiam tak bisa membalas kata-kata Randi, Devina merasa dia tidak mampu
untuk memilih dua hal ini.
“hai.”
Memecahkan lamunan Devina
“aku
tidak bisa”singkat Devina
“apa
maksudmu?”
“aku ingin pulang, aku rindu dengan orang tuaku.
Tapi bagaimana anak didikku?” terisak lirih.
Randi
menetap lekat teman dekatnya itu, terlihat jelas raut wajah seorang gadis yang
mengkhawatirkan orang tuanya. Randi tidak tega dengan Devina, Randi berusaha
menenangkannya.
“kapan
anak didikmu mengikuti lomba itu”
“dua
hari lagi”
“sudahlah jangan kamu pikirkan anak didikmu, biar
aku yang mendampinginya saat lomba nanti”
“bagaimana caranya kamu bisa mendampingi anak
didikku sementara kamu bekerja” tanya Devina.
“tenang, aku bisa meminta libur untuk satu hari
saja. Pulanglah aku tahu kamu sangat merindukan mamamu begitu juga sebaliknya.”
“benarkah?” Devina tak percaya.
“aku tidak pernah bercanda dengan hal seserius ini
Vina” jelas Randi.
“terima kasih Ran, aku selalu merepotkanmu dalam
segala hal”
“iya, kapan rencana kamu akan pulang?”
“hari ini Ran, sekali lagi terima kasih”
Matahari
kini sudah muncul dari peraduannya, pantulan sinarnya membias indah ditengah
waduk. Devina dan Randi beranjak dari dermaga itu, Randi segara memantau waduk
yang menjadi tugasnya sedangkan Devina kesekolah untuk meminta izin akan
kepulangannya hari ini.
Setelah dua hari menempuh perjalanan
darat, kini Devina sampai di kampung halamannya. Devina tiba disebuah rumah
panggung berhalaman luas, berwarna hitam yang berasal dari kayu ulin serta
terdapat tameng di dua sisi pintu berukirkan ukiran khas dayak. Devina mengetuk
pintu rumah itu.
“assalamu’alaikum”
“waalaikum salam”
“abah Devina pulang” tersenyum gembira
ketika ayahnya membukakan pintu.
“alhamdulillah, ayo nak masuk.
Kenapa kamu tidak bilang dulu ingin pulang?”
“ceritanya panjang abah”
Ayah
dan mama Devina meneteskan air mata bahagia melihat anaknya kini pulang, Devina
pun juga begitu. Seketika Devina teringat anak didiknya yang hari ini mengikuti
lomba, Devina pun segera menelpon Randi yang kini mendampingi anak didiknya.
“assalamu’alaikum
Randi”
“waalaikum
salam, Devina apa kamu sudah sampai dirumah?”
“iya,
aku sudah sampai. Bagaimana anak didikku?”
“kamu
patut bangga dengan anak didikmu Devina, mereka meraih juara 2”
“alhamdulillah,
syukurlah ini berkat kamu Randi. Sekali lagi terima kasih”
“iya, bagaimana kampung halamanmu sekarang setelah
kamu tinggalakan selama dua tahun Vina”canda Randi
“hahaha, kotanya semakin maju namun udaranya tetap
sejuk seperti dulu. Aku tidak bisa menceritakan semuanya biar kamu saja yang
melihat sendiri nanti jika kamu berkunjung kemari”
“ iya Devina, tunggun aku, aku pasti akan berkunjung
kesana dan menyematkan cincin dijari manismu.”
“aku
tunggu” tersenyum
“salam
untuk kedua orang tuamu Devina”
“iya,
sekali lagi terima kasih Randi”
Percakapan
itu pun berakhir, Devina sangat bahagia karena semua harapannya terwujud. Kini
Devina menikmati kebersaamnya bersama orang tuanya, dia ceritakan semua
kejadian selama dua tahun ini terjadi padanya dengan manja. Raut bahagia pun
terlihat jelas dari wajah kedua orang tua Devina. Devina pun larut dengan
kebahagiaan bersama orang tuanya.
Selesai…