Minggu, 22 Februari 2015

puisi ada juga loh


LALU
Karya Iriani Taufik


Aku menerka
Memandang jauh
Sejauh terkuaknya masa lalu

Bentangan alam berkamuflase
Menanti takdir tak bisa memilih
Bunga pinus jatuh
Karna hembusan angin
Atau lapuk sinar mentari

Aku menyimpan
Gambaran suram
Sesuram bangkitnya luka lama

Barisan elok bukit batas
Berjejer bagai serdadu
Berkeliling bagai pasukan permaisuri
Tak menampik besar pengaruh
Dalam kehidupanku

Aku terenyuh
Dalam empat purnama
Yang telah lalu.

cerpan ke-2


Dermaga penghabisan
Karya Iriani Taufik

Seujar mata memandang terlihat danau terbentang luas, perahu-perahu kecil yang berbolak-balik menyusuri danau lengkap dengan pemandangan bukit-bukit yang berjejer menjadi hiasan yang terlihat dari sudut pulau ini. Tenang, dengan suara desir angin yang bertiup mengenai rambut-rambut halus di sekitar telinga menambah nilai estetik pulau kecil nan indah ini.
Devina, seorang pengajar tenaga honorer yang bertugaskan di daerah terpencil Desa Bukit Batas, Kab Banjar Kalimantan Selatan, sudah 2 tahun terakhir ini dia tidak pulang ke kampung halamannya Grogot Kalimantan Timur. Saat ini dia mengalami kegundahan hati, rasa rindu mulai menyelimuti relung hatinya. Kerinduan terhadap kedua orang tuanya kini semakin menyiksa batin Devina.
Tepat di bawah pohon, menatap waduk yang ada di depan matanya Devina dan Randi duduk berdampingan diam seribu bahasa. Randi seorang sarjana teknik yang berkerja di salah satu PLTA dekat dengan Desa Bukit Batas tempat Devina bekerja. Randi teman dekat Devina selama bekerja di sini, Randi sering berkunjung sembari mengamati bendungan yang ada di desa itu.
Suara Devina memecahkan kesunyian yang terjalin diantara mereka selama kurang lebih 10 menit ini.
“Randi, beginikah rasanya mencari kehidupan yang layak?” masih memandang waduk.
“Kehidupan layak kadang membutuhkan pengorbanan yang layak Vina”
Devina menatap dalam wajah teman dekatnya itu, memberikan isyarat tak setuju dengan pernyataan Randi.
“Kalau begitu, apakah dengan ku tinggalkan orang tuaku pengorbananku sudah layak?”
“aku pun tak mengerti Devina, ikhlaskanlah anggap ini baktimu kepada orang tua mu” jelas Randi
“andai semua itu seringan seperti apa yang kamu katakan Ran, aku tak segundah ini”lirih Devina
“aku setuju, tapi berpengaruhkah jika kita hanya mengeluh tanpa dijalani. Kita harus menjalankan hidup ini bukan hanya menjalaninya” nasehat Randi
Nasehat Randi membuat hati Devina tergugah untuk tegar, namun seketika itu juga Devina teringat suara lirih orang tuanya yang menantikan kepulangan anak bungsu yang telah dua tahun merantau didaerah orang melalui via telepon dua hari lalu. Devina meneteskan air mata dipipi halusnya, dia merasa menjadi anak yang durhaka yang tak berguna bagi orang tuanya.
“assalamu’alaikum anak ku, apa kabar kamu disana? Abah dan mama disini baik-baik    saja!” tanya ayah Devina melalui via telepon.
“waalaikum salam abah, Devina disini baik.” Jawab Devina
“nak, abah dan mamamu sekarang tinggal hanya berdua dirumah, kakamu sekarang  mempunyai rumah sendiri” lirih ayah Devina
“alhamdulillah”singkat Devina
“mamamu sekarang sering melamun Devina, dia merasa kesepian. Dia selalu duduk merenung dibalkon belakang rumah sambil memandangi burung-burung yang mencari makan ” jelas ayah Devina.
Devina hanya diam, tanpa menjawab ataupun menanggapi bercakapan ayahnya. Tetesan air mata Devina pun mulai mengalir meluncur bebas melewati pipinya.
“nak, mengapa kamu diam?”
“tidak apa abah
“Devina, mamamu sepertinya sangat merindukanmu. Kalau boleh tahu, kapan kamu bisa pulang untuk mememui abah dan mamamu disini.” Pinta ayahnya
abah, Devina juga merindukan abah dan mama disini”
“kamu sudah dua tahun tidak pulang nak, jelas kami menanyakan ini pada mu”
“iya abah, Devina akan memberi kabar jika Devina bisa pulang”
“bukan abah memaksakan kehendak nak, tapi abah hanya kasihan dengan mamamu”
“iya, abah
“ya sudah, istirahatlah nak jangan lupa kabari abah tentang kabarmu”
“iya abah, abah dan mama baik-baik disana. Devina sayang abah mama”

Perbincangan via telepon yang berlangsung sekitar 10 menit itu, membuat rasa rindu Devina memuncak namun dia juga memikirkan pekerjaannya disini sebagai tenaga pengajar yang sehari-harinya menjadi pendidik puluhan anak-anak didesa ini.


Kini suara Randilah yang menyadarkan Devina dari lamunan yang teramat jauh masuk dalam pikirannya.
“mengapa kamu diam, Devina”tanya Randi
“kamu masih menanyakannya mengapa aku diam Randi?”Devina balik menanyakan
“kamu memang pintar membuatku kewalahan dengan sikapmu ini Devina”
“aku teringat permintaan abah dan mamaku Randi, yang memintaku pulang dua hari yang lalu karena mereka merindukan anak bungsunya yang tak pernah pulang  dua tahun terakhir ini”lirih Devina
“lantas, kamu ingin pulang?” tanya Randi
“aku tak mungkin pulang, dalam keadaan seperti ini. Aku juga takut jika aku pulang, aku tak diizinkan untuk kembali kesini lagi”jelas Devina meyeka air mata yg kini mengalir
“sudahlah Devina, bukankah anak didikmu akan mengikuti lomba cerdas cermat untuk mewakili sekolahmu minggu ini?”
“iya, itu jugalah yang menjadi pikiranku disaat aku ingin meninggalkan desa ini untuk pulang. Aku sudah terlanjur jatuh cinta dengan anak-anak desa ini Ran.”jelas Devina, yang kini mulai merendam emosi yang dari tadi mengelayuti dipikirannya.
“hanya anak-anaknya saja Devina? Tidak ada yang lain?”tanya Randi, sambil mengumbar senyum dibibirnya
“tentu ada yang lain, kamupun tahu apa itu”jawab Devina, membalas senyuman Randi.

Devina dan Randi kini saling bertatapan dengan simpul senyum dibibir masing-masing. Mereka kini beranjak untuk kembali, perasaan Devina kini mulai tenang namun bukan berarti kerinduan Devina terhadap kedua orang tuanya telah hilang.








Embun pagi masih menutupi permukaan air, baunya pun menyengat merasuk hidung dan matahari belum juga memunculkan sinarnya dari peraduan. Randi pagi ini bertugas untuk memantau waduk yang ada di Bukit Batas. Randi menyeberang menggenakan perahu, dikejauhan matanya tertuju pada seorang gadis yang berdiri di dermaga nampak tengah gelisah. Perahunya semakin dekat Randi pun semakin penasaran dengan gadis itu, ternyata gadis itu adalah Devina.
“Devina! Apa yang kamu lakukan di sini?” Menuruni perahu yang dinaikinya.
“emm..emmm” gelisah bermondar-mandir
“kamu nampak gelisah Devina? Ada apa sebenarnya?”

Seketika tangis Devina pecah, kebimbangannya kini membuatnya tidak bisa mengendalikan diri.
“baiklah Devina, mari kita duduk dulu”. Ajak Randi ke salah satu bangku yang ada di dermaga.
“ayahku tadi malam menelponku lagi”. Devina memulai.
“memintamu pulang?”
“tidak, lebih dari itu Ran. Mamaku sakit dan aku harus pulang”lirih Devina.
“terus, kamu ingin pulang?”
“aku dihadapkan dengan pilihan yang sangat sulit Ran. Di satu sisi aku mengkhawatirkan mamaku tapi disisi lain aku harus menemani anak didikku”.
“di sinilah kamu harus memilih, membuktikan dirimu dewasa. Menentukan yang mana kamu lakukan terlebih dahulu.” Jelas Randi
Devina hanya terdiam tak bisa membalas kata-kata Randi, Devina merasa dia tidak mampu untuk memilih dua hal ini.
“hai.” Memecahkan lamunan Devina
“aku tidak bisa”singkat Devina
“apa maksudmu?”
“aku ingin pulang, aku rindu dengan orang tuaku. Tapi bagaimana anak didikku?” terisak lirih.



Randi menetap lekat teman dekatnya itu, terlihat jelas raut wajah seorang gadis yang mengkhawatirkan orang tuanya. Randi tidak tega dengan Devina, Randi berusaha menenangkannya.
“kapan anak didikmu mengikuti lomba itu”
“dua hari lagi”
“sudahlah jangan kamu pikirkan anak didikmu, biar aku yang mendampinginya saat lomba nanti”
“bagaimana caranya kamu bisa mendampingi anak didikku sementara kamu bekerja” tanya Devina.
“tenang, aku bisa meminta libur untuk satu hari saja. Pulanglah aku tahu kamu sangat merindukan mamamu begitu juga sebaliknya.”
“benarkah?” Devina tak percaya.
“aku tidak pernah bercanda dengan hal seserius ini Vina” jelas Randi.
“terima kasih Ran, aku selalu merepotkanmu dalam segala hal”
“iya, kapan rencana kamu akan pulang?”
“hari ini Ran, sekali lagi terima kasih”
Matahari kini sudah muncul dari peraduannya, pantulan sinarnya membias indah ditengah waduk. Devina dan Randi beranjak dari dermaga itu, Randi segara memantau waduk yang menjadi tugasnya sedangkan Devina kesekolah untuk meminta izin akan kepulangannya hari ini.

            Setelah dua hari menempuh perjalanan darat, kini Devina sampai di kampung halamannya. Devina tiba disebuah rumah panggung berhalaman luas, berwarna hitam yang berasal dari kayu ulin serta terdapat tameng di dua sisi pintu berukirkan ukiran khas dayak. Devina mengetuk pintu rumah itu.
            “assalamu’alaikum”
            “waalaikum salam”
            “abah Devina pulang” tersenyum gembira ketika ayahnya membukakan pintu.
            “alhamdulillah, ayo nak masuk. Kenapa kamu tidak bilang dulu ingin pulang?”
            “ceritanya panjang abah


Ayah dan mama Devina meneteskan air mata bahagia melihat anaknya kini pulang, Devina pun juga begitu. Seketika Devina teringat anak didiknya yang hari ini mengikuti lomba, Devina pun segera menelpon Randi yang kini mendampingi anak didiknya.
“assalamu’alaikum Randi”
“waalaikum salam, Devina apa kamu sudah sampai dirumah?”
“iya, aku sudah sampai. Bagaimana anak didikku?”
“kamu patut bangga dengan anak didikmu Devina, mereka meraih juara 2”
“alhamdulillah, syukurlah ini berkat kamu Randi. Sekali lagi terima kasih”
“iya, bagaimana kampung halamanmu sekarang setelah kamu tinggalakan selama dua tahun Vina”canda Randi
“hahaha, kotanya semakin maju namun udaranya tetap sejuk seperti dulu. Aku tidak bisa menceritakan semuanya biar kamu saja yang melihat sendiri nanti jika kamu berkunjung kemari”
“ iya Devina, tunggun aku, aku pasti akan berkunjung kesana dan menyematkan cincin dijari manismu.”
“aku tunggu” tersenyum
“salam untuk kedua orang tuamu Devina”
“iya, sekali lagi terima kasih Randi”
Percakapan itu pun berakhir, Devina sangat bahagia karena semua harapannya terwujud. Kini Devina menikmati kebersaamnya bersama orang tuanya, dia ceritakan semua kejadian selama dua tahun ini terjadi padanya dengan manja. Raut bahagia pun terlihat jelas dari wajah kedua orang tua Devina. Devina pun larut dengan kebahagiaan bersama orang tuanya.

Selesai…